noesisnoesis
KognitifBukti kuat

Kebutuhan akan Kognisi

Cacioppo, J. T. & Petty, R. E. · 1982

Juga dikenal sebagai: NFC · Cognitive Motivation

Kebutuhan akan kognisi adalah perbedaan individu yang stabil dalam kecenderungan untuk terlibat dalam dan menikmati pemikiran yang memerlukan usaha. Ini merupakan disposisi motivasional, bukan kemampuan: mereka yang memiliki skor tinggi mencari masalah yang memerlukan deliberasi dan menemukan usaha kognitif sebagai hal yang secara intrinsik memuaskan, sementara mereka yang memiliki skor rendah bukannya kurang mampu, melainkan lebih mudah mengandalkan heuristik, isyarat sumber, dan kesimpulan orang lain. Tujuan awal konstruk ini adalah untuk menjelaskan mengapa pesan persuasif yang sama mengubah pikiran sebagian orang melalui kualitas argumen dan pikiran orang lain melalui isyarat periferal.

Perbedaan individu dalam kecenderungan untuk terlibat dalam dan menikmati aktivitas kognitif yang menuntut usaha. Orang dengan NFC tinggi mencari, terlibat dalam, dan menikmati tugas berpikir yang kompleks; mereka yang NFC-nya rendah lebih menyukai tugas kognitif yang lebih sederhana dan lebih mengandalkan heuristik kognitif.

Sumber:
Cacioppo, J. T., & Petty, R. E. (1982). The need for cognition. Journal of Personality and Social Psychology, 42(1), 116-131.
Ukur

Ikuti tes tervalidasi yang dibangun berdasarkan teori ini

Membaca tentang suatu konstruk memberi tahu Anda apa itu. Instrumen yang tervalidasi memberi tahu Anda di mana posisi Anda pada konstruk tersebut. Gratis untuk dikerjakan, hasil dalam hitungan menit.

Bukti sekilas

Dukungan empiris
Bukti kuat
Replikasi
Terreplikasi dengan baik
Lintas budaya
Sebagian besar universal
Meta-analisis
9 terindeks
Domain penelitianPsikologi kognitifPsikologi sosialKepribadianPenelitian persuasi

Peringkat ini merangkum literatur yang telah dipublikasikan tentang teori tersebut, bukan kualitas dari tes tertentu yang dibangun berdasarkannya. Ini adalah penilaian editorial berdasarkan sumber-sumber yang tercantum di bawah, dan dapat berubah seiring bertambahnya bukti.

Konteks Historis

Istilah ini berasal dari Cohen, Stotland, dan Wolfe pada tahun 1955, tetapi konstruk dan skala modernnya adalah karya Cacioppo dan Petty tahun 1982, yang dikembangkan sebagai komponen perbedaan individu dari Elaboration Likelihood Model persuasi. Skala asli yang terdiri dari 34 butir direduksi menjadi bentuk 18 butir yang banyak digunakan oleh Cacioppo, Petty, dan Kao pada tahun 1984. Konstruk ini terbukti sangat tahan lama, berpindah dari penelitian persuasi ke bidang pendidikan, pengambilan keputusan, kerentanan terhadap misinformasi, dan yang lebih baru, penelitian tentang bagaimana orang berinteraksi dengan rekomendasi algoritmik dan yang dihasilkan AI.

Konstruk

Kebutuhan akan Kognisi

The tendency to engage in and enjoy effortful cognitive activity — seeking out, engaging in, and enjoying complex thinking tasks (Cacioppo & Petty, 1982).

Instrumen

  • Skala Kebutuhan Kognisi IPIP(IPIP-NFC)Goldberg, L. R. (IPIP), measuring constructs of Cacioppo, J. T., & Petty, R. E.1999

Tes yang dibangun berdasarkan teori ini

Aplikasi Praktis

Kebutuhan akan kognisi memprediksi kedalaman pemrosesan informasi, resistensi terhadap misinformasi, dan kerentanan terhadap kualitas argumen dibandingkan isyarat permukaan, temuan yang diterapkan dalam komunikasi kesehatan dan penyampaian pesan sains, di mana konten yang sama harus menjangkau kedua disposisi tersebut. Dalam pendidikan, hal ini memprediksi keterlibatan dalam tugas terbuka dan berbasis inkuiri. Untuk pemahaman diri, hal ini berguna justru karena bukan merupakan ukuran kemampuan: mengetahui bahwa seseorang menghindari deliberasi yang memerlukan usaha dapat ditindaklanjuti dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh skor kecerdasan.

Cara Pengukurannya

Diukur dengan skala Likert laporan diri (bentuk pendek 18 butir) yang menghasilkan satu skor kontinu tunggal; diinterpretasikan secara normatif, tanpa ambang batas dan tanpa inferensi kemampuan.

Kritik & Keterbatasan

Skala ini berkorelasi substansial dengan keterbukaan terhadap pengalaman dan dengan kemampuan verbal, yang menimbulkan pertanyaan yang terus-menerus mengenai validitas inkremental. Karena berpikir dihargai secara sosial, butir-butirnya secara transparan bersifat diinginkan dan skor meningkat dalam situasi evaluasi. Penelitian lintas budaya lebih tipis dibandingkan dengan universalitas konstruk yang tersirat, dengan sebagian besar validasi dilakukan pada sampel Barat yang berpendidikan, di mana keterlibatan intelektual membawa status tertentu. Beberapa kritikus juga berpendapat bahwa konstruk ini mencampuradukkan kesenangan berpikir dengan persepsi diri tentang kompetensi dalam berpikir, yang tidak dapat dipisahkan oleh format laporan diri.

Publikasi Utama

  • Cacioppo, J. T. & Petty, R. E.. (1982). The need for cognition. 10.1037/0022-3514.42.1.116
  • Cacioppo, J. T., Petty, R. E. & Kao, C. F.. (1984). The efficient assessment of need for cognition. 10.1207/s15327752jpa4803_13
  • Cacioppo, J. T., Petty, R. E., Feinstein, J. A. & Jarvis, W. B. G.. (1996). Dispositional differences in cognitive motivation: The life and times of individuals varying in need for cognition. 10.1037/0033-2909.119.2.197

Teori Terkait

Kebutuhan akan Kognisi, definisi, bukti, dan cara pengukurannya | NOESIS